Breaking News
Loading...
Loading...

Socialmedia

Seputar Kabar Artis

Sorot

HEADLINEWS

Showing posts with label Dasar-dasar fotografi. Show all posts
Showing posts with label Dasar-dasar fotografi. Show all posts
Oct 22, 2012
Tips dan Trik Memotret Foto Model

Tips dan Trik Memotret Foto Model

Peserta lomba foto Canon Photo Marathon Indonesia 2012, usai mengambil gambar untuk dilombakan, berkesempatan mendapatkan workshop dari fotografer senior Tigor Siahaan seputar tips mengambil foto model.

Tips dan Trik Memotret Foto Model
KOMPAS.com/Oik Yusuf
Workshop diadakan di lokasi acara di teater terbuka Plaza Arsipel, Taman Mini Indonesia Indah, Sabtu (20/10/ 2012).

Dalam sesi pertama yang dilakukan persis sebelum para peserta mengikuti sesi foto model, Tigor menyampaikan tips-tips dasar untuk foto model. "Pertama, jangan lupa buka tutup lensanya," ujar Tigor, disambut gelak tawa peserta.

Langkah berikut yang perlu ditentukan adalah memilih format file, yaitu RAW atau JPEG. "Kalau hasilnya nanti akan diperbesar, misalnya untuk billboard, sebaiknya pakai RAW," ujar Tigor.

Selanjutnya, Tigor membeberkan jenis lensa yang sebaiknya dipakai untuk foto model. "Pakai yang 28 mm ke atas. Pilih bukaan paling besar untuk lensa Anda. Percuma beli lensa f2.8 kalau motretnya di f11," ujar Tigor, sambil menambahkan bahwa penambahan konteks lokasi terkadang diperlukan untuk foto model. "Sayang kan, sudah ke Taman Mini tapi background-nya polos. Sebaiknya tambahkan sedikit nuansa etnik."

Dia menyarankan agar jarak pemotretan berkisar di angka 3 meter antara fotografer dan model. Salah satu lensa ideal yang bisa dipakai memotret model, menurut Tigor, adalah lensa dengan focal length 70-200 mm.

Setelah sesi foto model berakhir, Tigor membawakan sesi workshop kedua seputar tips-tips lanjutan untuk foto model. Dia antara lain menekankan pada pemilihan fokus dan cahaya. "Kamera sekarang punya banyak titik fokus. Jangan salah pilih sehingga gambarnya buram.

Soal cahaya, Tigor menganjurkan peserta agar memperhatikan waktu pemotretan untuk mendapat cahaya maksimal. "Sebaiknya di pagi dan sore hari. Hindari di siang hari karena bisa menimbulkan bayangan di bawah mata."

Kalaupun terpaksa memotret di siang bolong, fotografer disarankan memakai reflektor untuk memberi tambahan cahaya. "Perhitungkan juga arah cahaya, misalnya side light yang bisa memberikan dimensi pada model. Backlight bisa digunakan untuk menekankan bentuk," ujarnya (sumber)
Follow Our Twitters
Aug 4, 2012
Mengenal Jenis-Jenis Lensa Untuk Kamera SLR

Mengenal Jenis-Jenis Lensa Untuk Kamera SLR

Koleksi Lensa Kamera - Salah satu kelebihan dari kamera Single Lens Reflex (SLR) baik yg konvensional (film) maupun yang digital (DSLR) adalah mudahnya kita mengganti lensa standard (kit) bawaan dari pabrik dengan lensa-lensa yang lainnya sesuai dengan selera ataupun kebutuhan.


Apa saja jenis-jenis lensa yang ada di pasaran yang biasa digunakan untuk ‘menggambar dengan cahaya’ itu?

1. Lensa Normal

Lensa ini adalah lensa yang menghasilkan gambar dengan perspektif lebih natural jika dibandingkan dengan lensa jenis lain. Sebuah lensa dikategorikan sebagai lensa normal jika memiliki focal length yang setara dengan diagonal gambar yang diproyeksikan didalam sensor kamera.

Pada format 35mm, dimensi gambar yang diproyeksikan kedalam kamera adalah 36 mm x 24 mm (panjang x lebar), sehingga diagonal gambar tersebut adalah 43,27 mm atau setara dengan 50 mm.

Lensa ini juga dikategorikan sebagai lensa primer karena mempunyai beberapa keunggulan, di antaranya memiliki bukaan diafragma maksimum yang lebih besar daripada lensa lain, seperti f.2, f1.8 atau bahkan f1.2 sehingga dapat digunakan untuk memotret pada kondisi minim cahaya dapat menghasilkan gambar yang lebih kaya warna.

Hal ini dimungkinkan karena dengan adanya bukaan diafragma yang maksimum, kamera dapat merekam lebih banyak cahaya.

2. Lensa Wide-angle

Lensa ini kadang-kadang disebut lensa lebar. Seperti namanya lensa ini memiliki sudut pandang yang sangat lebar, bahkan pada beberapa lensa dapat memberikan sudut pandang mendekati 180 derajat.

Pada prakteknya lensa jenis ini sering digunakan untuk memotret ruangan yang sempit atau untuk mengambil gambar sebuah benda secara utuh ketika benda tersebut berada relatif dekat dari pemotret.

Namun perlu diperhatikan bahwa gambar yang dihasilkan dari sebuah lensa wide-angle cenderung memiliki tingkat distorsi yang lebih tinggi dibandingkan dengan gambar yang dihasilkan oleh lensa normal.

Catatan lainnya, lensa ini tidak menghasilkan gambar sesuai dengan yang ditangkap oleh mata manusia, sebaliknya lensa ini memberikan kesan ‘lebih’ dari keadaan sebenarnya. Ruangan dapat terlihat ‘lebih’ tinggi, ‘lebih’ besar atau ‘lebih’ lebar dari ukuran sebenarnya.

3. Lensa makro

Lensa dengan ukuran 50mm, 90mm atau 100mm dengan tulisan makro merupakan lensa yang didesain khusus untuk memotret subyek yang sangat dekat dengan kamera atau benda-benda kecil lainnya.

Perbedaan lensa 50mm biasa dengan lensa 50mm makro tentunya terletak pada jarak fokus terdekat lensa tersebut. Pada lensa 50mm biasa, jarak fokus terdekat dari lensa ke benda sekitar 50cm. Sedangkan untuk lensa 50mm makro, jarak fokus terdekatnya bisa hanya 2cm dari benda.

Lensa makro dapat pula digunakan untuk memotret benda yang jauh, tetapi tingkat ketajamannya sedikit rendah dibandingkan dengan lensa jenis lain, biasanya lensa jenis ini digunakan untuk memotret bunga, koin, tetes embun, kancing, serangga dan benda-benda kecil lainnya.

4. Lensa Zoom

Lensa ini dirancang untuk memiliki beberapa sudut pandang yang berbeda. Terdapat berbagai macam lensa zoom, mulai dari 2x zoom, 3x zoom (70-200mm), 10x zoom (35-350mm) sampai dengan 12x zoom.

Untuk saat ini, lensa yang mempunyai lebih dari 3x zoom kurang mendapatkan gambar-gambar dengan kualitas yang konsisten. Oleh karena itu, pada umumnya pengguna lensa zoom profesional hanya menggunakan lensa 2x atau 3x zoom saja.

Beberapa lensa zoom merupakan lensa telephoto (200-400mm), beberapa yang lain merupakan lensa wide-angle (10-20mm, 16-25mm) dan sisanya mencakup wide-angle sampai telephoto (28-200mm, 35-135mm).

Lensa pada kategori terakhir sering disebut sebagai lensa zoom ‘normal’ dan telah menggantikan lensa primer sebagai solusi penggunaan satu lensa untuk berbagai kondisi.

5. Lensa Telephoto

Terkenal akan kemampuannya untuk memperbesar obyek yang jauh, dan menghasilkan gambar yang tidak terdistorsi, lensa jenis ini merupakan lensa favorit untuk memotret pertandingan olahraga (sepakbola, Formula Satu, MotoGP, dll). Dan tak lupa juga untuk pementasan panggung (konser, teater, orkestra, dll). Tak luput pula para paparazzi pun menjadikan lensa jenis ini sebagai lensa andalannya.

Lensa telephoto dapat dikategorikan sebagai lensa telephoto normal (85mm, 100mm, 135mm, 200mm), lensa zoom telephoto (28-300mm, 55-200mm, 70-200mm, 90-300mm, 100-300mm) dan lensa super telephoto (300mm, 400mm, 500mm, 600mm).

6. Lensa Fisheye

Dalam dunia fotografi, lensa fisheye adalah sebuah lensa wide-angle dengan kelebaran sudut pandang yang ekstrim. Area penglihatannya melebihi 100 derajat, atau bahkan kadang-kadang melampaui 180 derajat sehingga menghasilkan gambar-gambar dengan tingkat distorsi yang tinggi. Ruang tajamnya secara otomatis tidak terbatas dan pengaturan fokus kamera tidak terlalu diperlukan.

Awalnya lensa ini dikembangkan untuk digunakan dibidang astronomi, dan disebut ‘whole-sky lenses’. Kemudian lensa fisheye cepat menjadi populer dalam bidang fotografi karena keunikan distorsinya. Lensa ini sering digunakan untuk memotret hamparan pemandangan yang sangat luas sekaligus menonjolkan bentuk lengkung bumi. sumber: inilah.com
Follow Our Twitters
Jul 31, 2012
Enam Aplikasi Edit Foto Pilihan untuk Ponsel & Tablet

Enam Aplikasi Edit Foto Pilihan untuk Ponsel & Tablet

Foto Editing - Hadirnya fitur kamera pada smartphone dan tablet menambah maraknya dunia fotografi. Hal tersebut juga dapat menjadi hobi tersendiri bagi para pengguna perangkat mobile tersebut.

Aplikasi Edit Foto Pilihan untuk Ponsel & Tablet,Instagram,Camera+,Photoshop Express,Filterstorm,PicsPlay Pro - FX Photo Editor,Pixlr-O-Matic
Namun, seringkali hasil jepretan kamera pada kedua perangkat itu tidaklah semaksimal hasil jepretan kamera profesional. Sehingga Anda membutuhkan aplikasi edit foto terbaik untuk membuat foto hasil jepretan kamera di gadget Anda terlihat maksimal.
Berikut kami pilihkan enam aplikasi edit foto terbaik yang dapat diunduh di perangkat mobile Anda:

1. Instagram
Selain untuk editing foto, aplikasi yang bisa diunduh oleh smartphone dan tablet berbasis iOS dan Android ini, juga merupakan jejaring sosial sharing foto.
Dalam Instagram terdapat 17 filter yang dapat dipilih untuk diterapkan di foto yang akan kita edit. Ke-17 filter ini adalah Amaro, Rise, Hudson, Sierra, X-Pro, Lo-Fi, Earlybird, Sutro, Toaster, Brannan, Inkwell, Walden, Hefe, Valencia, Nashville, 1977, dan Kelvin.

Setelah foto tersebut disunting, maka foto akan dibawa ke halaman selanjutnya, yang foto tersebut akan diunggah ke dalam Instagram sendiri ataupun ke jejaringan sosial lainnya, seperti Facebook atau Twitter.

2. Camera+
Ini juga bukan sekadar aplikasi edit foto semata. Camera+ membantu saat ingin mengambil foto, ia mampu melakukan zoom sebanyak 6x, dan ada bantuan garis grid agar dapat menempatkan objek dengan sempurna.
Di dalamnya juga terdapat banyak efek, alat editing, serta border yang disediakan Camera+. Untuk memamerkan foto hasil edit di Camera+, aplikasi ini terintegrasi dengan situs jejaring sosial Facebook, Twitter, dan Flickr.

3. Photoshop Express
Membicarakan tentang editing foto, kurang lengkap rasanya jika tidak membicarakan aplikasi besutan Adobe, yakni Photoshop. Adobe membawa solusi edit foto ke perangkat mobile yang diberi nama Photoshop Express.
Pengguna dapat melakukan manipulasi warna, menambah efek dan filter, crop, memutar, meluruskan dan membalik foto. Photoshop Express menyediakan tools gratis, namun juga ada tools yang berbayar.

4. Filterstorm
Aplikasi ini mendukung aktivitas edit foto hingga 5 layer. Pengguna juga bisa melakukan penyesuaian warna dengan melakukan brush, gradient, pewarnaan, sketsa sampai memilih opacity.
Tidak cuma itu, Filterstorm juga bisa digunakan untuk mengatur kecerahan atau kontras foto, saturasi, exposure, hingga menentukan aspek rasio.

5. PicsPlay Pro - FX Photo Editor
Aplikasi ini menyediakan lebih dari 200 preset profesional, yang memungkinkan pengguna mempercantik foto dengan cepat. Ada efek HDR, Blur, Vintage, Black and White, dan memiliki kontrol real-time opacity.
Foto yang diedit dari PicsPlay Pro juga dapat langsung bisa dibagi ke layanan Instagram, Facebook dan Twitter.

6. Pixlr-O-Matic
Ini adalah aplikasi edit foto yang paling kami sukai. Aplikasi ini menyediakan lebih dari 100 efek, 280 overlay, dan hampir 200 border, Pixlr-O-Matic memungkinkan penggunanya membuat foto-foto yang terlihat keren.
Selain mengedit foto yang sudah tersimpan di memori ponsel, Pixlr-O-Matic juga bisa digunakan untuk mengambil foto baru. Foto hasil edit dari Pixlr-O-Matic ini pun bisa disimpan dalam resolusi tinggi, atau dibagikan ke jejaring sosial Facebook. [mor]
sumber: inilah.com
Follow Our Twitters
Jun 30, 2012
Teknik Dasar Fotografi:Mengenal 3 Elemen Dasar Fotografi

Teknik Dasar Fotografi:Mengenal 3 Elemen Dasar Fotografi

Setelah kita membahas tentang ISO, kali ini kita akan bahas elemen kedua dari segitiga fotografi, yakni Aperture.

Definisi aperture adalah ukuran seberapa besar lensa terbuka (bukaan lensa) saat kita mengambil foto. Saat kita memencet tombol shutter, lubang di depan sensor kamera kita akan membuka, maka setting aperture yang menentukan seberapa besar lubang ini terbuka.



Semakin besar lubang terbuka, makin banyak jumlah cahaya yang akan masuk terbaca oleh sensor. Aperture atau bukaan dinyatakan dalam satuan f-stop. Sering kita membaca istilah bukaan/ aperture 5.6, dalam bahasa fotografi yang lebih resmi bisa dinyatakan sebagai f/5.6.

Seperti diungkap di atas, fungsi utama aperture adalah sebagai pengendali seberapa besar lubang di depan sensor terbuka. Semakin kecil angka f-stop berarti semakin besar lubang ini terbuka (dan semakin banyak volume cahaya yang masuk). Serta sebaliknya, semakin besar angka f-stop semakin kecil lubang terbuka.

Jadi dalam kenyataannya, setting aperture f/2.8 berarti bukaan yang jauh lebih besar dibandingkan setting f/22 misalnya (Anda akan sering menemukan istilah 'fully open' jika mendengar obrolan fotografer). Jadi bukaan lebar berarti makin kecil angka f-nya dan bukaan sempit berarti makin besar angka f-nya. [bersambung/mor from]




Follow Our Twitters
Cara Mengenal 3 Elemen Dasar Fotografi

Cara Mengenal 3 Elemen Dasar Fotografi

Seringkali setelah membeli kamera digital, baik DSLR maupun digital compact (kamera saku), kita kerap terpaku pada mode auto untuk waktu yang cukup lama. Mode auto memang paling mudah dan cepat, namun tidak memberikan kepuasan kreatifitas.



Bagi yang ingin 'naik kelas' dari mode auto ke mode manual serta ingin menyalurkan jiwa kreatif ke dalam foto-foto yang dihasilkan, ada baiknya terlebih dahulu pahami konsep eksposur.

Ada tiga elemen yang harus diketahui untuk memahami eksposur yang kerap disebut sebagai Segitiga Fotografi. Setiap elemen dalam segitiga fotografi ini berhubungan dengan cahaya, bagaimana cahaya masuk dan berinteraksi dengan kamera.

Ketiga elemen tersebut adalah: ISO (ukuran seberapa sensitif sensor kamera terhadap cahaya), Aperture (seberapa besar lensa terbuka saat foto diambil), dan Shutter Speed (rentang waktu 'jendela' di depan sensor kamera terbuka). Interaksi ketiga elemen inilah yang disebut eksposur.

Perubahan dalam salah satu elemen akan mengakibatkan perubahan dalam elemen lainnya. Ketiga elemen ini adalah dasar yang wajib diketahui oleh fotografer.

Marilah kita bahas satu persatu dari ketiga elemen ini. Namun untuk bagian pertama, kita akan bahasa terlebih dahulu tentang ISO.

Secara definisi, ISO adalah ukuran tingkat sensifitas sensor kamera terhadap cahaya. ISO adalah kode nomor untuk merepresentasikan kebutuhan cahaya untuk menangkap foto.

Kode ini telah diverifikasi oleh International Standard Organization. Ada beberapa kalangan menganalogikan dengan ASA (American Standard Association) untuk kamera jadul yang masih menggunakan media film.

Namun secara fungsi dapat kita pahami secara sederhana. Semakin gelap situasi kita mengambil foto, maka kita membutuhkan ISO semakin tinggi. Sedangkan apabila situasi semakin terang, maka kita harus merendahkan ISO pada kamera.

Namun ada sedikit kekurangan saat kita meninggikan ISO pada kamera kita. Ternyata hasil jepretan akan semakin kelihatan grainy saat kita semakin menaikkan ISO.

Secara kasat mata terlihat bintik-bintik berwarna-warni di hasil jepretan. Hal ini dikenal dengan noise. Namun untuk kamera high-end sudah ada filter noise, sehingga dapat mengurangi masalah warna yang grainy tersebut.

Biasanya kamera DSLR menyediakan opsi manual ISO 100, 200, 400, 800 dan seterusnya. Dan ada pilihan auto ISO yang dapat dipakai untuk segala keadaan. Namun, tentu saja lebih mantap kalau kita mempunyai kemampuan untuk menentukan kebutuhan ISO menyesuaikan kondisi cahaya saat mengambil gambar.

Yang perlu diingat lagi adalah, dengan mengatur tinggi rendahnya ISO di kamera belum menjamin hasil jepretan kita akan selalu bagus. Karena pemilihan ISO juga harus disandingkan dengan pemilihan aperture (bukaan lensa) dan shutter speed yang tepat. Namun yang terpenting, Anda harus selalu mengasah feeling guna mendapatkan momentum yang pas.

Jadi kesimpulannya, semakin tinggi setting ISO di kamera kita maka semakin sensitif sensor terhadap cahaya. [bersambung/mdr from]



Follow Our Twitters
Triks-triks Buat Fotografer Pemula

Triks-triks Buat Fotografer Pemula

Fotografi merupakan suatu hobi yang membutuhkan pengalaman dan latihan. Seorang fotografer pemula harus belajar mengenai dasar-dasar fotografi jika ia ingin dapat memotret dengan baik.


Selain itu, ia juga harus rajin membaca tutorial mengenai fotografi ataupun rajin berdiskusi dengan orang lain. Saat ini di internet pun sudah tersedia beragam komunitas fotografi, baik lokal maupun internasional, baik itu profesional ataupun pemula.

Di era digital ini setiap orang dapat memotret. Tidak susah, hanya tinggal membidik, tekan tombol, dan jadi. Bahkan anak kecil pun mampu melakukan hal tersebut. Namun untuk dapat memotret dengan baik, tentu saja ada teknik-teknik tertentu yang harus kita pelajari dan ikuti.

Berikut ini adalah 6 hal non-teknis yang perlu diketahui untuk dapat semakin meningkatkan kreatifitas dan juga kualitas foto hasil jepretan kita.

1. Bawalah selalu kamera kita

Salah satu alasan mengapa orang banyak kehilangan momen penting adalah karena mereka tidak membawa kamera saat momen itu terjadi. Tidak perlu repot-repot membawa kamera berat yang lengkap dengan segala peralatannya.

Kamera saku digital sudah cukup bagus untuk selalu dibawa kemanapun kita pergi. Dengan membawa kamera di saku kita, kita akan selalu tertarik untuk melakukan pemotretan.

2. Potret lagi dan lagi

Jangan ragu untuk selalu memotret, karena kita tidak akan pernah merasa cukup melakukan pemotretan. Ken Rockwell, salah satu fotografer profesional, menyatakan bahwa ia sudah mengambil sekitar 30.000 foto dengan Nikon D3 dan 20.000 foto dengan Nikon D700, belum termasuk foto-foto lainnya dengan kamera lain.

Ia terus berlatih dan berlatih untuk menuju kesempurnaan hasil jepretannya. Di era kamera digital ini tak ada ruginya menjepret puluhan foto untuk satu obyek tertentu, toh tinggal menghapusnya nanti jika tidak bagus.

3. Percayalah pada mata

Hanya diri kita sendiri yang bisa mengetahui apakah obyek tertentu akan bagus untuk diabadikan atau tidak. Kita bisa saja belajar teknik-teknik tertentu, tapi akhirnya semua akan kembali pada kita untuk menggunakannya.

Bidik, jelajahi obyek dengan viewfinder dan temukan bagian yang bagus untuk difoto.

4. Teruslah melatih mata kita

Salah satu hal yang membuat seorang fotogafer bisa mendapatkan foto yang bagus adalah karena matanya jeli menangkap momen. Hal ini memerlukan latihan.

Dengan seringnya kita berlatih mata kita akan semakin awas dan mampu membayangkan suatu obyek atau kejadian yang ada di depan mata kita ‘dibingkai’ di dalam frame foto.

Jangan lupa juga untuk selalu mengamati hasil foto kita. Lakukan kritik pada diri kita sendiri, cari kekurangan dan kelebihan dari foto tersebut. Pikirkan juga cara untuk mengatasi kesalahan tersebut. Kalau perlu diskusikanlah dengan orang lain. Dengan demikian di foto-foto berikutnya kesalahan itu bisa diminimalisir.

5. Kenali kamera kita

Ini merupakan sesuatu yang wajib. Dengan mengenali kamera kita seperti kita mengenali diri kita sendiri, kita tidak akan melakukan kesalahan dalam pengoperasian kamera kita.

Tentunya kita tidak ingin melewatkan satu momen penting hanya karena kita tidak tahu berapa lama yang dibutuhkan kamera kita untuk siap. Tidak perlu hafal semua fitur yang ada di kamera kita. Tapi paling tidak kita tahu karakteristik dari kamera yang kita gunakan.

6. Lakukan eksperimen pada hasil foto

Saat ini banyak sekali software untuk mempercantik bahkan memanipulasi hasil foto. Bagaimana foto yang ‘biasa saja’ bisa menjadi luar biasa dengan program editing ini.

Program paling terkenal adalah Photoshop yang menjadi acuan bagi para fotografer dewasa ini. Jangan takut untuk melakukan eksperimen, buatlah hasil foto yang luar biasa dengan program ini.

Untuk itu jangan lupa kita harus selalu membuat backup dari foto kita. Bekerjalah di file backup tersebut, dan simpanlah file aslinya. Dengan demikian kita selalu mempunyai file hasil jepretan asli untuk melakukan eksperimen lain. Selamat mencoba [mor from ]




Follow Our Twitters
Back To Top